Minggu, 18 Agustus 2013



Lebaran tiba. Saatnya makan ketupat. Tradisi ketupat lebaran sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Kenapa ketupat? Kapan tradisi membuat ketupat ini dimulai? Sayangnya, belum ada referensi ilmiah tentang makanan khas ini. Namun, ada yang mengira-ngira, tradisi membuat ketupat sudah ada sejak masuknya Islam ke tanah Jawa, sekitar tahun 1400-an.
Dalam bahasa Jawa, ketupat disebut kupat . Kata kupat berasal dari suku kata  ku = ngaku (mengakui) dan    pat  = lepat (kesalahan) . Sehingga ketupat menjadi simbol mengakui kesalahannya.

Tradisi ketupat lebaran kiranya dapat dikaitkan dengan peran para wali, terutama walisongo dalam penyebaran Islam di Indonesia. 
Boleh jadi, tradisi kupatan sudah ada pada zaman pra-Islam Nusantara, sebagaimana tradisi selamatan yang juga sudah ada dan berkembang di Indonesia. Namun tradisi kupatan kemudian memperoleh sentuhan baru di zaman penyebaran Islam oleh Walisongo di dalam kerangka untuk menghadirkan tradisi yang akomodatif atau akulturatif di dalam masyarakat Jawa dan Nusantara pada umumnya.

Dari sisi bahasa, kupatan (bahasa Jawa) kiranya berasal dari kata Kaffatan (Bahasa Arab) yang memperoleh perubahan bunyi dalam ucapan Jawa menjadi kupatan. Sama dengan kata barakah (bahasa Arab) menjadi berkat (bahasa Jawa) atau salama (bahasa Arab) menjadi selamet (bahasa Jawa).

Maka secara istilah, dapat dinyatakan bahwa kupatan adalah simbolisasi dari berakhirnya bulan puasa dan menandai terhadap kesempurnaan atau kaffatan di dalam kehidupan individu dan masyarakat. Jadi tradisi kupatan sebagai penanda terhadap keislaman manusia yang sudah sempurna. 

Proses pembuatan ketupat
Untuk membuat ketupat, kita perlu daun kelapa yang masih muda yang disebut janur. Bungkus ketupat dibuat dari 2 lembar janur yang dianyam menjadi sebuah wadah. Setelah itu, bungkus ketupat diisi beras yang sudah dicuci bersih dengan ukuran dua pertiga bagian dari volume bungkus ketupat.

Setelah itu, ketupat dimasak selama 5 jam atau lebih sampai benar-benar masak. Ketupat yang sudah masak ditiriskan, lalu diangin-anginkan. Ketupat yang betul-betul sudah masak biasanya tahan sampai 2 hari. Setelah itu, bisa dikukus lagi agar tidak basi.

Kalau direka-reka, bentuk ketupat itu serupa dengan bentuk hati. Konon, rumitnya anyaman yang membungkus ketupat merupakan simbol berbagai kesalahan manusia yang membungkus hati kita.

Bagaimanapun, ketupat kini sudah menjadi bagian budaya di Nusantara. Selamat bersilaturahmi sambil ber-ketupat-ria.

TRADISI SELAMATAN

Selamatan atau selametan adalah sebuah tradisi ritual yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Selamatan juga dilakukan oleh masyarakat Sunda dan Madura . Selamatan adalah suatu bentuk acara syukuran dengan mengundang beberapa kerabat atau tetangga . Secara tradisional acara syukuran dimulai dengan doa bersama, dengan duduk bersila diatas tikar, melingkari nasi tumpeng dengan lauk pauk.
Praktik upacara selamatan sebagaimana yang diungkapkan oleh Hildred Geertz tersebut pada umumnya dianut oleh kaum Islam Abangan, sedangkan bagi kaum Islam Putihan (santri) praktik selamatan tersebut tidak sepenuhnya dapat diterima, kecuali dengan membuang unsur-unsur syirik yang menyolok seperti sebutan dewa-dewa dan roh-roh. Karena itu bagi kaum santri, selamatan adalah upacara do’a bersama dengan seorang pemimpin atau modin yang kemudian diteruskan dengan makan-makan bersama sekedarnya dengan tujuan untuk mendapatkan keselamatan dan perlindungan dari Allah Yang maha Kuasa.
Slametan berasal dari kata slamet (Arab: salamah) yang berarti selamat,bahagia, sentausa. Selamat dapat dimaknai sebagai keadaan lepas dariinsiden-insiden yang tidak dikehendaki. Sementara itu, Clifford Geertz slamet berarti gak ana apa-apa (tidak ada apa-apa). Upacara selamatan merupakan salah satu tradisi yang dianggap dapat menjauhkan diri dari mala petaka. Slametan adalah konsep universal yang di setiap tempat pasti ada dengan nama yang berbeda. Hal ini karena kesadaran akan diri yang lemah´ di hadapan kekuatan-kekuatan di luar diri manusia.

TRADISI LARUNG SESAJI TELAGA SARANGAN

Tradisi Larung Tumpeng merupakan salah satu tradisi budaya di Indonesia. Tradisi ini dilangsungkan di Telaga Sarangan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Tradisi tahunan ini diadakan pada setiap Bulan Ruwah (Jawa), hari Jum’at Pon dengan prosesi utama Larung Tumpeng (Labuh Sesaji) ke Telaga Sarangan. Menurut mitos Labuh sesaji ini dilakukan untuk memohon agar penunggu Telaga Sarangan tidak marah sebab, bila tidak dilakukan labuh sesaji, diyakini oleh masyarakat bahwa penunggu Telaga Sarangan akan marah sehingga membuat bencana alam di Sarangan khususnya.  Upacara tradisional ini dikemas secara khusus, sehingga menambah daya tarik pengunjung ke obyek wisata Telaga Sarangan. Sebelum dimulai acara utama yaitu pelarungan tumpeng, Pengunjung akan dihibur dengan sajian tari Barongsai dan Reog. Prosesi larung sesaji diawali dengan kirab Tumpeng Gono Bahu dari Kelurahan Sarangan menuju panggung di pinggir Telaga Sarangan.Iring-iringan kirab diawali dengan rombongan Drum Band dari siswa siswi SMP, barisan Putri Domas,Prajurit, pasukan berkuda, Sesaji Hasil Bumi,kemudian Tumpeng Gono Bahu.”Tumpeng raksasa setinggi 2,5 meter ini menghabiskan beras sebanyak 50 Kg. Tumpeng ini diarak mengelilingi telaga. Semua petugas yang mengawalnya mengenakan pakaian adat, sehingga menambah daya tarik pengunjung Telaga Sarangan. Acara ini berfungsi religius dan disisi lain mempunyai fungsi sosial. Dikatakan bermakna religius karena berkaiatan dengan aspek supranatural dan dikatakan bermakna sosial karena kegiatan ritus tersebut melibatkan masyarakat pendukung kebudayaan Tujuan tradisi ini sebagai ucapan terima kasih masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hadiah‐Nya yang berupa Telaga Sarangan, sehingga mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat Magetan khususnya dan Indonesia pada umumnya. Tradisi Larung Tumpeng yang diadakan satu tahun sekali membawa dampak positif dan negatif bagi masyarakat di desa Sarangan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Pemberangkatan dimulai dari Balai Kelurahan Sarangan, kurang lebih 500 meter dari Telaga Sarangan. Dalam perjalanan dari Balai Kelurahan Sarangan, peserta yang membawa sesaji dilakukan dengan berjalan kaki kecuali, empat pasukan berkuda dengan naik kuda. Semua sesaji dibawa dengan berjalan kaki,orang jawa menyebutnya dengan kata “Dipikul”.masing-masing sesaji dipikul oleh kurang lebih 4 orang,sebab ukuran dari sesaji yang lumayan besar dan berat. Upacara Labuh Sesaji dipusatkan di punden desa tepatnya sebelah timur telaga, di tempat inilah para pejabat Kabupaten, Muspika, para perangkat desa, sesepuh, dan tokoh masyarakat serta para warga masyarakat berkumpul untuk mengadakan sesaji. Setelah semua sesaji diterima oleh sesepuh desa, maka sesepuh desa membakar menyan serta membaca doa. Setelah pembacaan doa selesai sesaji dibawa ke telaga untuk dilarungkan kecuali, sesaji yang berisi nasi tumpeng yang berukuran kecil, panggang, cok bakal, dan setakir bunga telon ditinggal di bawah pohon beringin yang ada di punden desa. Pelarungan dilakukan setelah sesaji Agung Labuh Tumpeng Gono Bahu dikumpulkan menjadi satu di punden dan dibacakan doa oleh sesepuh Desa Sarangan. Semua sesaji diangkat kedalam perahu oleh warga.kemudian dibawa mengelilingi telaga serangan dengan menggunakan perahu.barulah semua sesaji dilarungkan kedalam telaga.dengan dilarungkannya sesaji tersebut warga sarangan dan semua warga magetan berharap dapat dijauhkan dari segala musibah dan balak,serta kehidupan masyarakat akan lebih baik. Jadi kalau anda berkunjung ke kabupaten magetan jangan lupa berkunjung di waktu-waktu pelarungan. Sambil menyelam minum susu, sambil liburan menikmati indahnya magetan dan wisata budaya juga.

Rabu, 07 Agustus 2013

manfaat strowbery

buah yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi para penikmat buah. Berukuran kecil, memiliki warna merah dan berasa asam serra hanya tumbuh di daerah yang memilikihawa dingin, ya ini lah "Strowbery". Tak banyak yg tahu mengenai manfaat buah strowbery ini. Buah ini memiliki kandungan vitamin C yang baik untuk daya tahan tubuh. Selain itu juga dapat mengobati sariawan. Tak hanya itu, sekarang banyak perani yang menanam dan mengembangkan buah ini. Didaerah pegunungan banyak perani yang nenanamnya dan dijadikan bisnis yang cukup menguntungkan. Bnyak yang menawarkan wisata kebun strowbery, hasilnya juga cukup lumayan. Itulah sedikit bnyak keuntungan buah strowbery. Selain untuk kesehatan, juga dapat dijadikan sebagai lahan bisnis yang cukup menggiurkan.